Lingkungan Hidup

PESONA AIR TERJUN KOLAM BIRU REREBE

Air Terjun yang memiliki genangan Kolam berwarna biru, adalah tempat rekreasi wisata bertempat Kampung Rerebe, Kecamatan Tripe Jaya, Gayo lues, banyak di kunjungi oleh wisata lokal, seperti yang kami lihat banyak di kunjungi pada minggu 20:9:20.

Ditengah kondisi masih dalam suasana gejolak virus Corona, warga masih banyak mengujungi wisata aih terjun rerebe yang merupakan aikon wisata kecamatan rerebe ini.

Selain susana yang asri di tengah rerimbunan pepohonan di sekeliling lokasi juga di dukung oleh akses jalan yang sangat bagus, lokasi berburu foto pemandangan tang indah juga sangat menawan.

TATA RUANG PENGUNAN KAWASAN HUTAN DALAM TRADISI SUKU GAYO

Ara Jehmen Kati Ara Besilo
‘ada zaman, baru ada sekarang’

Foto Anak-anak Pining yang berusaha mempertahakan hutanya dari rencana infestasi pertambangan

Pepatah Gayo ini menjadi bukti bahwa orang Gayo mempunyai tradisi dan peradaban yang tinggi dari zaman dahulu dan masih dipertahankan sampai sekarang. Dalam adat suku Gayo, ada beberapa aturan mengenai pemanfaatan hutan belantara untuk kehidupan bermasyarakat. Semua diatur dengan kearifan lokal suku Gayo.

Jauh sebelum isu global warming dan emisi gas rumah kaca dianggap mengancam keberlangsungan kehidupan umat manusia, nenek moyang orang Gayo telah memikirkan cara penggunaan hutan yang baik demi kehidupan umat manusia. Dalam adat orang Gayo, hutan dibagi dalam beberapa bagian. Bagian-bagian itu diberi nama Blang Penjemuren, Blang Perutemen, Blang Perueren, Blang Perempusen, dan Aih Aunen.

Blang Penjemuren  berarti sebuah tempat untuk menjemur padi sebelum dijadikan beras. Tempat ini secara khusus bagi kaum wanita untuk menjemur padi. Biasanya padi dijemur baramai-ramai dari beberapa rumah tangga yang hanya dijaga dua gadis agar tidak diganggu binatang. Karena di dalam adat orang Gayo ada istilah “anakku, anakmu” yang berarti perkumpulan anak gadis dan pemuda satu kampung adalah milik bersama dalam menggunakan tenaganya. Hal ini sebagai wujud rasa persaudaraan suku Gayo.

Blang Penjemuren berposisi di pinggir daerah permukiman suatu kampung yang berbatasan langsung dengan hutan yang paling dekat dengan kampung tersebut. Tempat ini bisa disebut juga “Dewal”.  Di sini dibuat tempat padi yang sudah dipanen atau disebut dengan “Keben”. Alasan padi ditempatkan di luar kampung, jika terjadi sesuatu pada kampung seperti kebakaran, padi bisa selamat sebagai makanan pokok dalam mempertahankan kehidupan.

“Keben “ juga berfungsi sebagai tempat tidur para pemuda “Sebujang” beramai-ramai ton nome sebujang. Tujuannya, bila terjadi sesuatu pada kampung, para pemuda mudah dipanggil karena mereka tidur pada satu tempat.

Berikutnya, Blang Perutemen yang berarti suatu kawasan hutan untuk mengambil kayu bakar “Utem”.  Hanya dari kawasan hutan inilah kayu boleh diambil kayu bakar dan kayu untuk keperluan lainnya. Syaratnya, kawasan hutan ini tidak boleh berada di hulu sungai sehingga tidak akan merusak sumber mata air.

Dalam adat ini juga diatur agar tidak sembarangan mengambil kayu di hutan. “tebang pilih kayu i uten kati selisih mara bahaya” (menebang kayu di hutan harus dipilih-pilih, tidak boleh sembarangan agar bahaya bencana alam tidak terjadi).

Di kawasan hutan “Blang Perutemen” inilah segala kayu yang dibutuhkan bisa diambil, termasuk kayu untuk membuat rumah. Namun, ada tata cara mengambil kayu di sini. Siapa yang mau menebang, harus kembali menanam jenis kayu tersebut sesuai dengan jumlah yang ditebang. Bahkan, sebelum menebang pun  ada upacara khusus yang bertujuan untuk meminta izin kepada pemilik dan penguasa di hutan tersebut “empu ni tempat”  yang biasa dipimpin oleh seorang pawang hutan.

Blang Perueren adalah kawasan hutan secara khusus untuk beternak. Biasanya kawasan ini ditentukan dari kesepakatan tokoh masyarakat yang diyakini bisa beternak sapi atau kerbau yang tidak mengganggu kebun milik masyarakat lainnya. Di Kabupaten Gayo Lues, daerah yang bernama Blang Nangka dahulunya adalah kawasan “Bur Perueren”. Di Kecamatan Pining masih bisa kita lihat sampai sekarang “Bur Perueren Berang Salam”.

Blang Perempusen merupakan kawasan hutan yang dimiliki secara khusus oleh sebuah keluarga dalam usaha mengolah lahan pertanian. Kawasan hutan ini dibentuk dan ditetapkan dari hasil kesepakatan bersama masyarakat kampung sehingga disepakati jumlah luas lahan tertentu.

Aih Aunen merupakan kawasan sungai yang berfungsi sebagai sumber air bagi kaum suku Gayo. Selain tempat mandi, sungai juga berfungsi dalam beberapa hal, termasuk untuk memenuhi sumber makanan. Dalam aturan ini, sungai juga harus dijaga dan tidak menyebarkan racun. Hal ini diangap perlu karena banyak rumah tangga yang tak bisa memasang air bersih ke dalam rumah. Mereka menjadikan sungai sebagai sumber air minum. Para janda dan anak yatim yang hidup di bawah garis kemiskinan mengandalkan sungai sebagai sumber kehidupan terutama lauk. Di sungai mereka “mengegi, nyekot, dan rodok”.

Dalam masyarakat suku Gayo, sungai sebagai tempat mandi juga dibagi dua, yakni Aunen Benen (tempat mandi khusus wanita) dan Aunen Rawan (tempat mandi khusus Pria). Di tempat mandi inilah beragam cerita kehidupan suku Gayo bisa kita dapat

Foto adalah : Kebradaan pemukiman kampung yang berada di tengah hutan Pining

MENIKMATI KEINDAHAN AIR TERJUN JALUK

poto di titik air terjun ke empat

Berbicara potensi wisata di dataran tinggi Gayo tak akan ada habisnya.
Daerah dengan tarian khasnya Tari Guel ini identik dengan nuansa alam yang sejuk, pohon pinus sebagai penghijau, tembakau sebagai kenikmatan, pegunungan hijau bagai pemanja mata, dan kenikmatan kopinya menjadi daya tarik wisatawan.
Jika Anda berkunjung ke Aceh Tengah, jangan lewatkan kesempatan untuk singgah di lokasi wisata air terjun Jaluk.
Destinasi yang baru dibuka ini akan memberi pengalaman unik bagi para traveler. Karena untuk mencapai lokasi ini, kalian akan melewati hamparan kebun kopi.
Air terjun Jaluk yang memiliki empat titik air terjun ini berada di Kampung Jaluk, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.
Untuk mencapai lokasi air terjun, harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 600 meter, melintasi jalan tanah dan melewati perkebunan kopi milik warga setempat.
Tiba di lokasi air terjun, Anda bisa memilih di antara empat titik air terjun untuk berswafoto. Keempat titik air terjun itu memiliki ketinggian yang bervariasi.
Air terjun yang berada di tingkat paling bawah, merupakan yang paling tinggi dengan hiasan tebing dan keindahan hutan yang masih sangat alami.
Sedangkan air di tingkat kedua, terlihat lebih lebar sekira dua meter, dengan air yang mengalir dari sisi kanan bersamaan dengan air terjun di tingkat ketiga.
Terakhir, air terjun di tingkat keempat yang berada di sisi kiri dengan jarak sekitar 15 meter, melewati aliran sungai yang dikelilingi tebing dan akar belukar yang bergelantungan dari pohon-pohon di sisi atas air terjun.

poto air terjun pertama
poto air terjun ke dua
air terjun ke tiga


Jadi, tunggu apa lagi? Siapkan waktu terbaik kalian untuk mengunjungi lokasi ini.

Populasi Gajah Meningkat, Perkebunan Warga di Aceh Timur Dirusak

Peureulak, Aceh Timur. Dilaporkan oleh masyarakat warga dusun Blang Gading pada hari senin tanggal 7 September 2020.  Dua ekor Gajah liar masuk dan merusak perkebunan sawit warga di kecamatan ranto peureulak. Masuknya dua ekor gajah ini disinyalir karena populasinya yang tidak terkendali. Pemerintah yang bertanggung jawab atas pencatatan populasi gajah di sekitar Aceh Timur kurang memberikan informasi kepada warga atas dampak yang bisa disebabkan.

                       

Habitat Gajah liar semakin sempit karena penebangan pohon di hutan yang tidak terkendali . Karena semakin sempitnya areal habitat gajah menyebabkan gajah – gajah tersebut masuk ke kawasan hunian warga dan merusak lahan petani.

Rusaknya lahan petani bisa menyebabkan hilangnya mata pencaharian warga.

Untuk saat ini kawasan yang terdampak oleh kerusakan yang disebabkan gajah liar tersebut baru dusun Blang Gading, dikhawatirkan jika tidak ada tindak lanjut dari pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan gajah serta habitatnya maka akan semakin meluas ke dusun sekitar Blang Gading seperti Alur Pinang dan Simpang Api.

Masyarakat Blang Gading sudah melapor pada keplor dan Geuchik perihal kerusakan lahan perkebunan warga oleh gajah – gajah tersebut dan harapannya pihak yang terkait segera menindak lanjuti musibah ini.

Krung Tuan Terancam Kering Akibat Galian C ilegal

NISAM ANTARA- Sejak beberapa tahun belakangan galian C di sungai Krueng Tuan Gampong Alue Dua Kecamatan Nisam Antara kab. Aceh Utara kian marak. Pantauan Jurnalis warga di lokasi, pengambilan batu sungai dengan menggunakan beberapa alat berat berupa ekskavator yang dilakukan pelaku usaha tambang galian C di sungai Krueng Tuan , Aceh Utara.

Aparatur Gampong Gampong Alue dua, Tarmizi menyebutkan, aktivitas galian C di Gampong Alue Dua  itu seakan telah membungkam mulut warga disini. “Pengambilan batu sungai dengan cara mengeruk pakai alat berat tersebut saat ini telah mengancam ekosistem lingkungan di sekitar kawasan sungai. Terkesan dibiarkan, tidak ada perhatian dari pihak berwenang dan dinas terkait,” kata Tarmizi kepada Jurnalis ini, minggu(13/09) siang.

kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Batu dalam sungai Kreung Tuan terus diambil dan diangkut menggunakan mobil dump truk kecil maupun besar.

  “Kami masyarakat disini sangat berkeluh terkait kondisi tersebut. Hingga kami warga disini tidak tau harus melaporkan kemana lagi, karena itu tidak pernah ada tanggapan maupun respon,” ujar tarmizi .

Akibat galian c tersebut selain merusak ruas jalan lintas antar gampong, juga telah mengakibatkan kekurangan debit air krung tuan itu sendiri dan juga abrasi yang mengancam masjid dan beberpa rumah warga didekat lokasi galian C tersebut

“Kami warga disini berharap kepada pihak terkait untuk segera menghentikan aktivitas galian tersebut. Ini demi kelangsungan lingkungan hidup kami disini,” pintanya.

Ayo kita Selamatkan Air Terjun Lae Soraya Sebelum Keindahannya Rusak akibat Proyek PLTA

Kota Subulussalam adalah salah satu kota yang berada di Aceh yang masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser. Sehingga di Subulussalam banyak potensi alam yang masih asri seperti air terjun.
Beberapa air terjun yang terdapat di Kota Subulussalam antara lain air terjun Lae Soraya, air terjun Silangit, air terjun Kedabuhan, air terjun SKPC, air terjun Lae Impal dan masih banyak air terjun yang masih tersembunyi Kota Subulussalam.

Ekowisata Lae Soraya yang dijadikan Stasiun Riset Soraya di Subulussalam yang didirikan sejak 1994, berada di sepanjang sungai Alas Singkil tepatnya di Kampong Pasir Belo Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam.
Perjalanan menuju ke lokasi ini menggunakan perahu tradisional (robin) dengan menyusuri sungai yang lebarnya (100m) selama 2-3 Jam.
Jika kita menyusuri sepanjang sungai ini, kita dapat melihat pemandangan yang sangat indah dengan beberapa air terjun yang masih sangat sangat asri yaitu air terjun Lae Soraya, Ruam, Ranto Panjang, Batu Biti, Simanuk-manuk Betina dan air terjun Simanuk-jantan.
Sayangnya sungai Alas-Singkil ini rencananya akan dibendung, demi meningkatkan pasokan listrik. Pembangkit Listrik Tenaga Air [PLTA] berkapasitas 126 mega watt, berlokasi di Desa Pasir Belo, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, rencananya dibangun oleh gabungan PT. Atmo Daya Energi [Adein], PT Hyundai Engineering, dan Saman Corporation.
Warga khawatir pembangunan PLTA ini akan merusak keindahan alam dan mengakibatkan hilangnya mata pencarian warga yang bergantung dari hasil tangkapan ikan. Daerah Lae Soraya ini termasuk kedalam kawasan hutan dataran rendah dan juga jalur satwa dari hutan Leuser di bagian tenggara dan tengah ke selatan atau ke Suaka Margasatwa Rawa Singkil dan sebaliknya.

Sejak Berstatus Hutan Desa, Ini Manfaat yang Dirasakan Warga Agusen

Gambar Hutan Desa (HD) Agusen

Secara geografis Kampung Agusen terletak di Kecamatan Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh. Masyarakat kampung Agusen pada saat ini sudah bisa memanfaatkan Hutan Lindung (HL) secara legal seluas 1.267 ha yang kini sudah berstatus Hutan Desa (HD) sejak tahun 2018.
Masyarakat kampung Agusen bisa memanfaatkan lahan untuk bercocok tanam di HD yang memang sudah dibuka sebelum ditetapkanya HL sebagai HD dan tidak boleh melakukan penebangan atau membuka lahan baru. Masyarakat juga bisa memanfaatkan hasil hutan nonkayu secara langsung dari HD.
Masyarakat yang memanfaatkan lahan di HD sudah menerapkan sistem agroforestry. Masyarakat menanam cabe, bawang merah, tembakau dan tanaman semusim lainya di kombinasikan dengan tanaman kehutanan atau tanaman Multi Purpose Tree Sepecies (MPTS) seperti pohon aren, Petai, alpukat, durian, kemiri dan lainya. Sistem agroforestry ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan fungsi utama hutan tetap terjaga.
Masyarakat Agusen memanfaatkan hasil hutan nonkayu seperti Rotan yang digunakan untuk menbuat asesoris seperti gelang, cincin, gantungan kunci dan lainya, Aren yang dimanfaatkan air niranya untuk diolah menjadi gula merah, dan banyak lagi hasil hutan nonkayu yang sudah dimanfaatkan masyarakat baik ada yang dijual dan konsumsi/gunakan sendiri.
Masyarakat kini telah merasa lega dan merasa aman karna sudah bisa mengelola dan memanfaatkan hasil hutan secara legal walau harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk keamanan hutan dalam jangaka panjang.
Dengan kepercayaan yang telah di berikan kepada masyarakat Kampung Agusen untuk mengelola dan memanfaatan hasil hutan, masyarakat harus dapat memanfaatkannya secara bijak dan lestari.

keindahan gunung yang di sebut dalam lagu Hymne Gayo Tawar sedenge

poto Burni Kelieten (gunung Krlieten)

siapa yang tidak mengenal dataran tinggi tanah Gayo dengan nuansa alam yang sejuk seperti pegunungan yang mengelilingi danau Lut Tawar, kota Takengon yang telihat indah dari puncak Al-Kahfi atau yang sering di sebut Pantan Terong dan yang paling khas dari kota dingin ini ialah kenikmatan kopi Gayonya yang sudah tetukir di mata dunia. 

Jika berdiri di Singah Mata, dari Pantan Terong kecamatan bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, disana ynö5kita akan melihat panorama yang sangat indah dari Danau Laut Tawar yang terbentang luas, tanpak di sebelah utara puncak gunung dan tidak terlepas dari pandangan mata dari banyaknya gunung yang terhampar kita bisa melihat langsung ketinggian Burni Kelieten.
adalah salah satu obyek wisata yang ada di kabupaten Aceh Tengah, selain memiliki wisata yang bagus,
Dipuncaknya terdapat Pilar, dibangun Tentara Belanda, “Pada saat itu, masayarakat dijadikan sebagai buruh.

Puncak gunung burni Kelieten memiliki ketinggian sekitar 2639 Meter dari atas permukaan laut. Mendaki puncaknya selain membutuhkan nyali besar dan fisik yang kuat. Rutenya hanya setapak, rute perjalanan menuju Burni Kelieten memiliki dua jalur dari Air Terjun Mengaya, Kecamatan Laut Tawar dan dari Nosar kecamatan Bintang.

gunung burni kelieten yang masuk ke dalam Hymne atau lagu kebangaan orang Gayo yang diciptakan oleh seniman Gayo yaitu almarhum A.R Moese.

Secara geografis, lokasi Gunung Burni kelieten berada pada Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Jarak antara kaki gunung dari kota Takengon kurang lebih sekitar 10 kilometer yang bisa ditempuh dengan melakukan perjalanan selama 30 menit. Titik ini terletak di kecamatan Bintang Desa mengaya yang merupakan start favorit pendakian di gunung tersebut.

daya tarik di puncak Burni Kelieten yaitu pusat poto di batu yang membuat dan terlihat jelas keindahan danau Lut Tawar yang terhampar luas dan tidak ketingalan perpohonan yang indah seolah terukir rapi dengan nuansa lumut yang menempel indah di perpohonan seolah menambah daya tarik mata pendaki.

Geram dengan Ilegal Logging, Kaum Ibu di Ketol Hadang Truk Pembawa Kayu Haram

Kaum perempuan di Desa Bergang Kecamatan Ketol Aceh Tengah yang geram dengan aksi ilegal logging yang terus terjadi di daerah mereka, melakukan aksi penghadangan truk yang membawa kayu hasil ilegal logging.

Aksi penghadangan itu dilakukan kamis,pada tanggal 20 februari 2020.

Selama aktivitas ilegal ini berjalan, terhitung sudah ada lima orang masyarakat yang berasal dari luar desa yang tertangkap karena telah melakukan penebangan liar di desa Bergang.

Hal lain yang menarik adalah pelaku ilegal logging tersebut ditangkap oleh kelompok beberapa ibu-ibu yang diberi nama Singkite Bergang yang memiliki mimpi untuk melindungi hutan Bergang dari kehancuran.

Barang bukti yang mereka temukan lebih kurang setengah ton kayu olahan berbentuk papan dengan jenis kayu meranti.

“Harap turunkan kayu dari truk,” kata seorang ibu bernama Rima yang ikut penghadang truk pembawa kayu jenis meranti yang ditebang secara illegal

Setelah aksi penghadangan tersebut, keesokan hari nya, Jum’at (21/2/2020) Reje Kampung (kepala desa) Bergang kemudian melakukan musyawarah bersama pelaku illegal logging yang merupakan warga dari luar Desa Bergang.

Isi musyawarah itu antara lain tentang penebangan hutan yang terus terjadi karena dibekingi oknum aparatur desa, memusyawarahkan tentang perbaikan jembatan yang rudak akibat sering dilintasi truk pengangkut kayu haram.

Hasil musyawarah, jembatan tersebut kemudian diperbaiki. Tapi persoalan illegal logging di desa itu masih saja belum teratasi.

Dengan tulisan ini, warga berharap pihak berwenang termasuk reje setempat, mengambil sikap atas persoalan ini.