ACEHNESIA.COM — Bagi pihak Belanda, fenomena ini menjadi suatu hal yang tidak biasa. Mereka menyebutnya Atjeh Moorden atau ‘pembunuhan Aceh’.

Selanjutnya lebih dikenal sebagai Aceh Pungoe (Bahasa Aceh), atau Aceh Gila.

Penyematan kata ‘gila’ merujuk pada anggapan awal pihak Belanda mengenai sikap orang Aceh yang bisa tiba-tiba menghunus rencongnya dan menyasar orang Belanda.

Oleh orang Belanda, ini dianggap sebagai gejala psikologis.

Perbuatan nekat itu dianggap tidak mungkin dilakukan oleh orang waras.

Maka timbullah istilah di kalangan orang Belanda Gekke Atjehsche (orang Aceh gila), yang kemudian populer dengan sebutan Aceh Pungo.

Suatu ketika, puas usai memantau anak buahnya, Schmid (Komandan Divisi 5 Korp Marsose Lhoksukon) beranjak pulang.

Baru beberapa langkah ia meninggalkan lapangan, tiba-tiba seorang Aceh lewat di hadapannya. Orang itu berhenti lalu memberi ‘tabik’ atau salam penghormatan.

Schmid mengangkat tangannya untuk membalas salam penghormatan orang itu sembari tersenyum.

Baru saja ia melihat sang pemberi tabik menurunkan tangannya, ketika ia sadar, ujung rencong orang itu sudah menembus perutnya.

Shcmid lengah! Ia tak melihat orang tadi menarik rencong yang diselipkan di pinggangnya.

Schmid terhuyung dan sekarat. Seragamnya basah oleh darah. Kendati diboyong ke rumah sakit, tetapi nyawanya tak tertolong. Schmid tewas.

Cerita di atas menggambarkan bagaimana Komandan Divisi 5 Korp Marsose Lhoksukon, Kapten Charles Emile Schmid tewas pada suatu Senin yang cerah, tepatnya tanggal 10 Juli 1933 di Aceh.

Tragis memang.

Sang kapten tak mati di medan perang atau di rimba pertempuran. Ia mati ditusuk di depan pasukannya sendiri.

Ditikam!

Lokasi di mana Schmid ditusuk seharusnya menjadi tempat paling aman dari serangan musuh.

Terlebih, tempat itu dekat dengan tangsi-tangsi militer milik Belanda.

Lantas, kenapa si pelaku penusukan berani melakukannya? Inilah yang disebut “Aceh pungoe” !!! (*)

(Penulis adalah penikmat sanger di Cekmin Kupi Sigli)

Share.

Comments are closed.